Pages

Tuesday, September 30, 2008

Minal Aidin Wal Faidzin

Ngaturaken sugeng riyadi kagem sedaya,
nyuwun agung pangapunten
menawi kulo gadah lepat ingkang dipun
sengaja utawi mboten

Thursday, September 18, 2008

Pentingnya Mendengarkan

Saya pernah bertanya pada teman seorang HRD, apa rahasia & misteri wawancara bisnis yang berhasil. Teman saya menjawab ringan, HANYA SATU, PERHATIAN PENUH TERHADAP ORANG YANG SEDANG BERBICARA PADA ANDA, ITU SANGAT PENTING. TIDAK ADA HAL LAIN!

Saya jadi termenung, tapi saya ingat, keponakan saya berkata bahwa ibunya mencintai dirinya. Dengan meledek saya bertanya, “Ahhh masa?”Keponakan saya kemudian menyahut sambil tertawa, dia bilang, ”Iya lah, mama sayang sama Nina, karena setiap kali aku pulang sekolah dan memanggilnya, mama selalu menghentikan apapun yang lagi mama kerjakan. Walaupun pada saat mama lagi masak. Dia akan mendengarkan cerita Nina di sekolah sampai selesai”

Oh, iya ya... saya juga menjadi lebih semangat menjalani pekerjaan saya begitu tahu banyak orang yang mendengarkan saya bercicit cuit.

Hm.. ternyata mendengar adalah sebuah perbuatan yang ringan namun menghasilkan...

Monday, September 15, 2008

- Waktu Untuk Menunggu Seorang Kekasih Hati

Kadang-kadang muncul suatu pertanyaan, kapan ya saya bisa mendapatkan seorang kekasih yang sesuai dengan kriteria dan keinginan saya.

Ada lelaki yang mencoba untuk mendekati saya, tapi itu bukan pilihan saya, akhirnya daripada tidak punya seorang kekasih saya terima saja, tapi lama kelamaan cinta kami tidak semulus bayangan saya.

Kemudian saya ceritakan kepada ibu saya, dan beliau berkata “Ri.... pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat…!!.”

Kemudian beliau berkata lagi…, ”Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu, Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu, Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu….!! Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius, dan akhirnya membuahkan hasil yang manis dan sesuai dengan pilihan kita….”

Hari Ini

Hari ini….. adalah permulaan bagi hari yang baru.

Tuhan telah mengaruniakan hari ini untuk kita gunakan semau kita :

Boleh kita sia-siakan atau

Boleh kita pakai untuk tumbuh dan berkembang dengan lebih baik lagi



Tetapi apa yang dilakukan pada hari ini adalah sangat penting.

Karena kita menukarkan sehari hidup kita dengannya.


Bila esok menjelang, hari ini akan pergi untuk selamanya.

Itu berarti setiap hal yang dilakukan pada hari ini tidak akan terulang lagi.

Setiap detik yang berlalu tidak akan tercipta sama persis lagi.
Semoga saja hari ini kita tidak akan menyesal.

Dengan harga yang kita bayar untuk melewatkan setiap detiknya…

Kisah sandal jepit dan Sepatu Mewah




Disebuah toko sepatu di kawasan perbelanjaan termewah di sebuah kota , nampak di etalase sebuah sepatu dengan anggun diterangi oleh lampu yang indah. Dari tadi dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memamerkan kemolekan designnya, haknya yang tinggi dengan warna coklat tua semakin menambah kemolekan yang dimilikinya.

Pada saat jam istirahat, seorang pramuniaga yang akan makan siang meletakkan sepasang sandal jepit tidak jauh dari letak sang sepatu. "Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan sekali saja dalam bentuk buruk dan tidak menarik", sergah sang sepatu dengan nada congkak.
Sandal jepit hanya terdiam dan melemparkan sebuah senyum persahabatan.

"Apa menariknya menjadi sandal jepit ?, tidak ada kebanggaan bagi para pemakainya, tidak pernah mendapatkan tempat penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat hilang, kasihan sekali kamu", ujar sang sepatu dengan nada yang semakin tinggi dan bertambah sinis.

Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang sepatu dengan tatapan lembut, dia berkata "Wahai sepatu yang terhormat, mungkin semua orang akan memiliki kebanggaan jika memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan menyimpannya di tempat yang terjaga, membersihkannya meskipun masih bersih, bahkan sekali-sekali memamerkan kepada sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya¨. Sandal jepit berhenti berbicara sejenak dan membiarkan sang sepatu menikmati pujiannya.
"Tetapi sepatu yang terhormat, kamu hanya menemaninya di didalam kesemuan, pergi ke kantor maupun ke undangan-undangan pesta untuk sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya dipakai sesekali saja. Bedakan dengan aku. Aku siap menemani kemana saja pemakaiku pergi, bahkan aku sangat loyal meski dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan kerinduan bagi pemakaiku. Setelah dia seharian dalam cengkeraman keindahanmu, maka manusia akan segera merindukanku. Karena apa wahai sepatu?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan kelonggaran. Aku tidak membutuhkan perhatian dan perawatan yang spesial. Dalam kamus kehidupanku, jika kita ingin membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan kenyamanan untuknya¨, Sandal jepit berkata dengan antusias dan membiarkan sang sepatu terpana.
"Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan kalau sekedar untuk dipamerkan dan menimbulkan efek ketakutan untuk kehilangan. Untuk apa kepandaian dikeluarkan hanya untuk sekedar mendapatkan kekaguman..¨ Sepatu mulai tersihir oleh ucapan sandal jepit.
"Tapi bukankah menyenangkan jika kita dikagumi banyak orang?¨, jawab sepatu mencoba mencari pembenar atas posisinya.
Sandal jepit tersenyum dengan bijak, "Sahabatku! ditengah kekaguman sesungguhnya kita sedang menciptakan tembok pembeda yang tebal, semakin kita ingin dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya¨
Dari pintu toko nampak sang pramuniaga tergesa-gesa mengambil sandal jepit karena ingin bersegera mengambil air wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang sepatu "Lihat sahabatku, bahkan untuk berbuat kebaikanpun manusia mengajakku dan meninggalkanmu¨
Sepatu menatap kepergian sandal jepit ke mushola dengan penuh kekaguman seraya berbisik perlahan "Terima kasih, engkau telah memberikan pelajaran yang berharga sahabatku, sandal jepit yang terhormat¡¨.

Friday, September 12, 2008

Buat para Mama & Calon Mama (Surat untuk Mama)

Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.
Kan , mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.
Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya.
Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh.
Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.


Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma.
Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja.
Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?


Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan.
Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan ?
Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya?
Nanti mama ngga bisa kerja ya?
Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya?
Kalo gitu susah ya, ma?
Mbak ngga diganti ngga apa-apa tapi mama bilangin dong jangan galak sama aku.


Ma,bisa ngga hari Kamis sore mama nganter aku ke lomba nari Bali ? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, ma. Ntar yang dandanin aku siapa?
Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong.
Kalo mama kan kalo dandan cantik. Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya.
Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma.
Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo mamaku itu cantik banget, aku kan bangga, ma.
Temen-temen tuh ngga pernah liat mama.
Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan mereka jadinya udah lupa tampangnya mama......


Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh.
Uangnya mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh.
Uangnya mama tabung aja. Kalo uang mama udah banyak, kan mama ngga usah kerja lagi.
Nah, itu baru sip namanya.
Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama mama kali ya?
Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk.
I love you Ma..

Thursday, September 4, 2008

Bagaimana Rasanya Punya Teman ?

Bagaimana rasanya punya teman? Ah, mungkin itu tidak pernah terpikirkan oleh kita sampai suatu saat dimana kita kehilangan seorang teman….
Kita lebih tahu apa itu sehat ketika kita sakit..............
Kita lebih mengerti apa itu gembira ketika kita sedih .................

Begitu juga kita baru menghargai teman ketika kita merasakan kehilangan teman…

Ketika kita tidak bisa lagi mencela teman dengan candaan-candaan konyol.............
Ketika kita tidak bisa lagi mengingatkan dia akan kekeliruan yang dia buat................
Ketika kita tidak bisa lagi menertawakan kekurangan kita masing-masing bersama-sama ...........
Ketika tidak ada seseorang yang bisa kita bawakan makan siangnya,
yang bisa kita tampung keluh kesahnya,
yang bisa tetap memberi kita dukungan ketika semua orang tidak mempercayai kita….
Ketika semua hal itu hilang, kita baru tahu bagaimana rasanya punya teman…..

Coba saja kalau kita mau belajar…
Untuk dari sekarang menghargai teman kita: teman di rumah, teman di tempat kerja, teman dekat, teman dimana saja….dan terutama juga teman hidup….

Tuesday, September 2, 2008

Jembatan Maaf

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karenaapa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama bertahun-tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.
Suatu hari, sang kakak meminta seseorang untuk membangun sebuah tembok kayu di depan sungai yang membentang diantara rumah mereka. Agar ia tidak lagi bisa melihat rumah adiknya di seberang sungai. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan yang melintasi sungai yang menghubungkan rumahnya dengan rumah adiknya. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan.
Terkadang kita membutuhkan orang ketiga untuk memberi maaf pada seseorang. Tapi, seandainya kita mau membuatnya sendiri, tentu jembatan maaf yang kita buat sendiri, akan lebih indah.