Twitter adalah sebuah layanan microblogging yang memungkinkan anggotanya melakukan update sewaktu2 layaknya status dalam Facebook. Jika dibandingkan dengan FB, Twiter terlihat lebih sederhana dan lebih mudah dalam menjalankannya
Situs yang sedang naik daun ini lebih menarik dan penuh kejutan, misalnya Joko Anwar gara-gara sumpahnya di tweeter, terpaksa menunaikan janjinya masuk ke toko swalayan dengan berbugil ria.
Disini saya tidak akan membahas bagaimana twitter membuat hari saya jadi cerah ceria, tapi saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang istilah-istilah di Twitter. Agar temen-temen yang belum atau baru mempunyai twitter tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan twitter
Tweet : update yang dilakukan setiap pemilik account, sehingga semua orang bisa melihat ungkapan-ungkapan kekesalan, kesenangan, kebingungan dsb
Contoh : TGIF , Thx God Its Friday
Followers : orang yang mengikuti kita dan menerima setiap update-an yang kita lakukan.
Followings : kebalikan dari followers. Orang yang kita ikuti dalam twitter
Re Tweet : sering di tulis dengan RT, artinya menulis ulang tweet orang lain, biasanya diikuti nama orang yang membuat tweet tsb
Contoh : RT@srilestari “TGIF, Thx God Its Friday”
Trending Topics : Topik yang sedang hangat di twitter. Biasanya trending topics akan muncul dan selalu diupdate pada halaman twitter kita.
Over Head (OH) : menulis ulang tweet orang lain tanpa menyebutkan sumber tweet tsb.
Contoh : OH “TGIF, Thx God Its Friday”
Direct Message (DM) : pesan pribadi followers kepada kita.
@ : tweet yang di khususkan ke temen yang diberi tanda
Contoh : @srilestari : makasih udah ditraktir….hehehehe
Hash Tags (#) : dipergunakan untuk mencari topik di twitter.
Contoh : #batik
Itulah beberapa istilah yang biasa digunakan di twitter, semoga bisa membantu dalam menggunakan account twitter
Sunday, November 15, 2009
Sunday, November 8, 2009
Sibuk
Pernah nggak Anda tersinggung karena dibilang sok sibuk?
Saya pernah. Ya, baru minggu lalu kejadiannya.
Ceritanya seorang temen saya menelepon. Dia ngajak ketemuan. Saya bilang kayaknya kalau minggu - minggu ini saya nggak bisa deh. Saya lagi sibuk.
Terus dia bilang,"Yah, Rik, kapan sih elo nggak sibuk? Kayaknya elo sibuk melulu deh. Coba, buku yang bulan lalu gue kasih udah elo baca belom? Pasti belom. Pasti alasannya juga karena sibuk. Iya, kan? Nggak Rik, elo sebenernya nggak sibuk. Tapi berpikir dan menjadikan diri loe sibuk. Elo akan selalu punya waktu untuk apa yang elo perhatiin. Jadi, kalau elo nggak mau ketemu gue, nggak usah deh bilang elo sibuk. Bilang aja, kalau gue emang nggak ada dalam list perhatian loe. "
"Kok , mikirnya begitu?" tanya saya.
"Iya, sekarang pikir aja. Orang sesibuk apapun, kalau dia punya hobi nonton DVD, pasti dia akan selalu punya waktu untuk hobinya itu. Orang yang punya dan suka motor Harley, sesibuk apapun dia pasti tetap nyempetin diri ngumpul sama klubnya di akhir minggu. Selalu ada waktu untuk segala sesuatu yang kita prioritaskan. Kalau elo bilang elo mau ketemu gue dan nggak pernah ketemu waktunya, hati - hati lho, jangan - jangan time management loe berantakan. Jadi elo berasa, diri loe sibuk terus. Udah ya, ntar kapan - kapan gue telepon lagi."
Hmmm, jujurnya sih, saya nggak suka temen saya itu ngomong begitu. Kesannya nyindir banget gitu! Tapi, lama - kelamaan saya jadi mikir juga. Biasa.. kalau ditegur pertama 'kan kita suka nggak terima, baru deh setelah lewat beberapa saat, mau nggak mau, kita mengakuinya.
Gimana ya? Ngatur waktu itu bukan sesuatu yang mudah.
Tapi, kali ni saya nggak mau cari excuse lagi ah. Teguran teman saya tempo hari, membuat saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan hari ini, untuk - setidaknya - menyadari waktu yang saya pakai, walaupun cuma 1 menit. Mungkin kalau saya mengawasi setiap menit saya, saya bisa menguasai satu jam waktu saya. Ya, sedikit demi sedikit dong, namanya juga usaha. Kan nggak mungkin langsung bisa.
Semoga kalau teman saya itu telepon lagi, saya bisa langsung bilang bahwa saya sudah punya waktu untuk dia
Thursday, October 29, 2009
Wortel, telur, dan kopi
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya yang seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.
Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”
“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.
Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama yaitu perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.
Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.Semakin lama semakin harum tercium.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”
Apakah kamu adalah sebuah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.
Ataukah sebutir telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?
Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.
Wednesday, October 28, 2009
Sekecil Apapun Tidak Akan Sia-Sia
Suatu hari ada seorang lelaki tua yang berjalan di tepi pantai di waktu subuh. Ia melihat seorang pemuda sedang memunguti ikan bintang laut yang terdampar ke daratan, lalu melemparkannya kembali ke lautan.
Lelaki tua itu mendekatainya seraya berkata, “..anak muda, mengapa kau melakukan ini?’
“Jika ikan-ikan ini tidak saya kembalikan ke laut, ia akan mati terkena cahaya matahari.” Jawab sang pemuda.
“Akan tetapi pantai ini kan panjangnya bermil-mil dan ada jutaan ikan bintang laut di sini! Sia-sia saja usahamu ini.” Kata lelaki tua dengan penuh keheranan.
Pemuda itu memandang ikan bintang laut yang ada di genggamannya, kemudian melemparkannya ke laut seraya berkata, “Bagi bapak mungkin sia-sia, tapi bagi ikan yang satu ini mudah-mudahan usahaku tidak sia-sia.”
Monday, October 26, 2009
Topeng
Seorang penjual topeng tampak berdiri di tepi jalan. Ia perhatikan kendaraan dan orang lalu lalalng. Setiap akli ada tanda2 calon pembeli menghampiri, tukang topeng pun memperlihatkan aneka topeng yang dijajakan. Tak sungkan, beberapa topeng ia kenakan secara bergantian.
“Silakan, Pak, Bu. Topeng hebat. Nyaman di muka. Nggak bikin gerah! Ayo siapa mau beli?” teriaknya sambil memperlihatkan aneka topeng di kedua tangannya.
Buat sebagian orang, hidup tak ubahnya seperti arena berpose mengenakan topeng. Ada topeng dengan sosok bijak, ada topeng berwajah cantik nan menawan, ada topeng seram seperti gorila, dan ada topeng lucu menyerupai badut.
Tak sembarang orang bisa menebak karakter asli si pemakai topeng. Seluruh karakter topeng begitu menyatu dalam diri si pemakai. Kalau bukan karena hubungan lama dan dekat, nyaris, tak seorang pun bisa memastikan apakah seseorang sedang mengenakan topeng atau tidak.
Semakin mahal topeng yang diperankan, semakin nyaman topeng dikenakan. Persis seperti yang diungkapkan sang penjual topeng, ”Pokoknya seperti tidak memakai topeng!”
Monday, October 5, 2009
Tak Pernah Takut
Kemarin saya sedang ngobrol santai dengan dua orang teman saya. Tiba-tiba seorang di antara kami berkata, ”Eh, elo ingat nggak sih, apa yang jadi ketakutan elo semua waktu kita masih usia belasan?”
Saya terdiam sejenak. Apa ya? Sepertinya banyak, deh : mulai dari takut dapat ulangan jelek, putus sama pacar sampai takut diledekin teman.
Tapi teman saya yang satunya lagi menjawab: “Takut? Takut apa ya? Kayaknya gue biasa aja deh. Dari dulu kalau ada apa-apa gue cuek aja tuh… Temen-temen bilang gue nggak punya cewek, gue cuek. Ulangan gue jelek, gue nggak masalah,. Sampai UMPTN, kalaupun gue nggak keterima ya udah… “
“Ah, gitu? Sampai sekarang juga merasa begitu?” tanya saya penasaran.
“Ehm, sebagian besar iya…… ya mungkin kekhawatiran yang terbesar ya soal keluarga, … tapi bukan berarti takut. Kenapa? Gue aneh ya?”
Saya jadi berpikir. Iya, ya… sama seperti waktu kita kecil dulu… Kita berani untuk belajar berjalan dan naik sepeda tanpa perasaan takut sedikit pun. Kita percaya bahwa selalu ada orang tua yang akan menjaga kita supaya kita tidak jatuh. Atau kalaupun kita jatuh, kita percaya selalu ada orang yang akan membantu mengobati luka kita. Makanya kita tidak pernah merasa takut, karena kita percaya….
Bukankah memang selalu ada yang menjaga kita? Siapa lagi kalau bukan Sang Pengatur dan Penjaga Kehidupan….
Wednesday, September 30, 2009
Sebuah email
Semalam saya menerima telepon dari seorang sahabat saya. Kami sudah lama sekali tidak kontak.
“ Sri…..asisten pribadi terima telponmu kok gak berubah sih, masih Indra Bekti?” begitu sapanya. “ Maaf ya, pasti saya mengganggu tidurmu, udah tidur ya?”
“Nggak apa-apa kok”, jawabku. “I Nengah kan?” tanyaku gak yakin karena masih belum nyambung nyawaku.
“Iya Sri, kamu pasti heran karena saya nelepon.
Tiba2 saya inget kamu. Saya baru membuka email setelah 3 minggu ini saya berada diluar. Wah…..seneng banget aku dapat email ucapan selamat ulang tahun…..boleh juga animasinya…..kreatif…..Rasanya seneng sekali ada yang inget ulang tahunku..”
Dan kami berbicara sekitar 10 menitan, Dia tidak mau menggangguku lebih lama lagi. Kututup telepon dengan tersenyum sambil meneruskan tidurku yang tertunda dengan perasaan bahagia.
Ah, ngirim email itu kan sesuatu yang sangat sederhana……….Tapi aku baru menyadari, bahwa sesuatu yang sangat sederhana itu ternyata bisa berarti besar dan berharga bagi orang lain.


